Banjir-Longsor Aceh Sumbar Sumut Dipicu Hujan Ekstrem, Siklon dan Kerusakan Lingkungan
NASIONAL, SULTRAINFORMASI.ID – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak 24 November 2025 dipicu kombinasi curah hujan ekstrem, pengaruh siklon, serta kerusakan lingkungan yang melemahkan daya tampung wilayah.
Ketua Prodi Meteorologi ITB, Dr. Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan hujan ekstrem terjadi karena Sumatera Utara dan sekitarnya sedang berada pada puncak musim hujan.
“Beberapa wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter. Bahkan BMKG mencatat lebih dari 300 milimeter,” katanya dikutip sultrainformasi.id dari kompas.com.
Ia menyebut munculnya pusaran atau vortex dari Semenanjung Malaysia yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, ikut memperkuat suplai uap air dan pembentukan awan hujan.
“Siklon ini meningkatkan suplai uap air dan memperluas cakupan presipitasi,” jelasnya.
Pakar geospasial ITB, Dr. Heri Andreas, menegaskan kerusakan tutupan lahan memperburuk bencana. “Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan,” katanya.
Sementara di Aceh, BPBA melaporkan banjir di 16 kabupaten/kota dipicu hujan tinggi berhari-hari, angin kencang, serta kondisi geologi labil yang menyebabkan banjir, tanah bergerak, dan longsor.
“Sebagian besar kejadian masih dipicu oleh curah hujan tinggi, angin kencang, dan kondisi geologi labil,” demikian laporan BPBA.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban meninggal dunia imbas banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 303 orang sampai Sabtu sore (29/11/25).









