Pasien Keracunan Kehamilan Dirujuk Pakai Perahu Terbuka di Kabaena, Janin 7 Bulan Tak Terselamatkan
BOMBANA, SULTRAINFORMASI.ID – Tragedi menyayat hati terjadi di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Seorang pasien rujukan medis yang mengalami keracunan kehamilan harus kehilangan janin yang dikandungnya setelah diangkut menggunakan perahu kayu terbuka tanpa atap dan dinding pelindung saat menuju rumah sakit.
Pasien tersebut terpaksa menempuh perjalanan laut dengan kondisi sangat memprihatinkan sebelum akhirnya tiba di rumah sakit. Setibanya di fasilitas kesehatan, pasien langsung menjalani operasi darurat.
“Pasien itu mengalami keracunan kehamilan. Setelah dibawa ke rumah sakit, malamnya langsung dioperasi. Namun, anak yang masih berusia tujuh bulan di dalam kandungan tidak bisa diselamatkan,” kata, Sahrul, warga Kabaena Selatan, saat dikonfirmasi Sultrainformasi.id, Senin (19/01/2026).
Peristiwa ini kembali membuka persoalan serius terkait minimnya sarana transportasi laut untuk rujukan medis di wilayah kepulauan. Sahrul mengungkapkan, pada tahun 2025 sebenarnya telah tersedia anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengadaan speed boat rujukan pasien ke Pulau Kabaena.
“Anggaran itu memang sudah diniatkan untuk Kabaena, tapi proses tender pengadaannya tidak selesai sehingga anggarannya batal dan hangus. Ini yang sangat kami sayangkan, karena pemberitaan dan perhatian terhadap masalah ini tidak serius,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah ke depan lebih memprioritaskan perbaikan dan pengadaan armada speed boat, termasuk peningkatan kapasitas muatan, demi keselamatan pasien.
Sebelumnya, sebuah video amatir yang viral di media sosial memperlihatkan pasien rujukan medis terbaring di atas perahu kayu sederhana tanpa atap dan pelindung, Minggu (18/01/2026). Dalam video berdurasi 38 detik itu, pasien tampak terpapar langsung panas matahari dan terpaan angin laut selama perjalanan.
“Pak Bupati Bombana, lihat ini warga Kabaena yang dirujuk, perahunya tidak pakai tenda,” ujar seorang warga dalam video tersebut dengan nada kecewa.
Video itu pun memicu kecaman luas dari warganet. Banyak pihak menilai kejadian tersebut sebagai ironi di tengah janji pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat kepulauan.
Warga Kabaena menilai minimnya fasilitas transportasi medis laut mencerminkan kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kebutuhan dasar masyarakat pulau. Tak hanya pemerintah daerah, peran DPRD Bombana juga ikut disorot karena dinilai belum maksimal memperjuangkan aspirasi warga kepulauan.
Masyarakat mendesak pemerintah segera turun tangan menyediakan armada transportasi laut yang aman, layak, dan manusiawi untuk rujukan pasien, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.









