Aktivitas Tambang Cinnabar Ilegal Serobot Lahan Peternak di Bombana, Ribuan Sapi Terancam Mati

Aktivitas Tambang Cinnabar Ilegal Serobot Lahan Peternak di Bombana, Ribuan Sapi Terancam Mati. Foto: Istimewa.

BOMBANA, SULTRAINFORMASI.ID – Aktivitas tambang batu cinnabar yang diduga ilegal di Desa Wambarema, Kecamatan Poleang Utara, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, menuai kecaman warga. Pasalnya, penambangan ini tidak hanya menyerobot lahan peternakan, tetapi juga mencemari sungai yang menjadi sumber air utama bagi ribuan sapi milik warga.

Kelompok Ternak Sapi Adil Makmur secara resmi telah melaporkan kejadian ini ke Polres Bombana pada Kamis, 17 Juli 2025. Dalam laporan tersebut, Ketua Kelompok, Amir Dahlan, menjelaskan bahwa lahan peternakan seluas 144 hektare yang sebelumnya digunakan secara legal oleh kelompok ternak, kini telah dipagari dan ditanami kelapa sawit oleh oknum tak bertanggung jawab.

“Pada 28 Juni, kami dapati lokasi kami sudah dipagari dan ditanami bibit kelapa sawit. Setelah kami selidiki, diketahui pelakunya adalah saudara Rusli alias La Ruse,” kata Amir.

Lebih parah lagi, lanjut Amir, aktivitas penambangan batu cinnabar bahan baku utama merkuri telah dilakukan di kawasan sungai tempat minum ternak. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kesehatan ribuan ternak mereka.

“Kalau sungai tercemar merkuri, dampaknya bukan cuma ke sapi, tapi bisa sampai ke manusia juga. Ini sangat berbahaya,” tegasnya.

Sumber lain dari kelompok peternak menyebutkan bahwa aktivitas tambang dikoordinasi oleh seseorang berinisial R alias T. Modusnya, R membangun pos di kawasan hutan, memungut biaya Rp100 ribu per hari dari setiap penambang, lalu membeli hasil tambang dari mereka.

“Lahan ini adalah Hutan Produksi, dan pemerintah sudah memberikan izin resmi kepada kami untuk menggembalakan sapi. Bahkan ada bantuan rutin dari pemerintah. Tapi sekarang diklaim sepihak oleh kelompok R,” ungkap sumber tersebut.

Kondisi makin memprihatinkan karena jumlah penambang terus bertambah. Diperkirakan sudah lebih dari 300 orang yang melakukan aktivitas penambangan di kawasan tersebut.

“Kami takut ribuan sapi ini akan mati jika terus-terusan minum dari sungai yang tercemar. Kami minta pemerintah dan aparat segera bertindak sebelum semuanya terlambat,” tutup Amir Dahlan.

Hingga berita ini dimuat, belum ada tanggapan resmi dari pihak berwenang. Sementara itu, aktivitas penambangan di lokasi dilaporkan masih terus berlangsung.

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐤𝐮𝐧𝐣𝐮𝐧𝐠𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐆𝐨𝐨𝐠𝐥𝐞 𝐁𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐮𝐥𝐭𝐫𝐚𝐢𝐧𝐟𝐨𝐫𝐦𝐚𝐬𝐢.𝐢𝐝, 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐝𝐢𝐬𝐢𝐧𝐢.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup