Usia Kolaka Timur Baru 12 Tahun, 2 Bupatinya Sudah Terjebak Godaan Kekuasaan!

Dua Bupati Kolaka Timur yang Terjebak Kasus Korupsi. Foto: istimewa.

Kolaka Timur (Koltim) lahir dari asa dan perjuangan berstatus sebagai kabupaten termuda di Sulawesi Tenggara (Sultra) sejak resmi terbentuk pada 11 Januari 2013, melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2013. Kini usianya, 12 tahun. Sebagai “remaja” administratif, Kolaka Timur masih diharapkan tumbuh kuat, mandiri, dan bersih dalam tata kelola pemerintahan.

Namun harapan itu seolah sirna ketika dua bupatinya yang seharusnya menjadi garda terdepan pembangunan dan teladan antikorupsi justru terjerat kasus korupsi dalam waktu relatif singkat sejak kemajuan daerah ini dimulai.

Bupati Pertama yang Tumbang Terlebih Dahulu

Andi Merya Nur, perempuan termuda yang menjabat sebagai Bupati Kolaka Timur sejak 14 Juni 2021, sempat digadang-gadang sebagai figur baru penuh harapan. Namun, baru tiga bulan menjabat secara definitif, ia ditangkap KPK pada 21 September 2021 dalam operasi tangkap tangan terkait dugaan suap pengadaan barang/jasa dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Vonisnya: 3 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp200 juta.

Bupati Saat Ini Juga Tumbang

Kini, penggantinya, Abdul Azis mantan perwira polisi terjerat kasus dugaan suap proyek pembangunan RSUD Kelas C Kolaka Timur senilai Rp126,3 miliar. Ia ditangkap KPK pada 7 Agustus 2025 setelah menghadiri agenda partai di Makassar. Menurut KPK, Abdul Azis diduga meminta fee sebesar 8% dari nilai proyek kepada pihak kontraktor. Saat ini, ia dalam pemeriksaann oleh KPK dan telah ditahan sejak ditetapkan tersangka hingga 20 hari kedepan.

Renungan: Luka di Usia Muda

Dua kasus korupsi di pucuk kepemimpinan Kolaka Timur menunjukkan bahwa usia muda sebuah daerah tidak otomatis berarti kebal dari penyakit kekuasaan.

Fase awal yang seharusnya menjadi masa menanam pondasi integritas dan tata kelola justru ternoda oleh praktik yang menggerogoti kepercayaan publik. Luka ini bukan hanya soal kerugian negara, tapi juga keretakan keyakinan masyarakat terhadap cita-cita awal pemekaran daerah.

Untuk bangkit, Kolaka Timur membutuhkan lebih dari sekadar pergantian pemimpin ia memerlukan pembenahan sistem dan budaya birokrasi agar sejarah kelam ini tidak terulang.

Kolaka Timur adalah gambaran bagaimana sebuah daerah muda bisa cepat dewasa dalam usia, tetapi belum matang dalam integritas kepemimpinan. Jika pemimpin terus terjerumus pada godaan kekuasaan, maka usia 12 tahun ini akan diingat bukan sebagai masa membangun, tetapi masa kelam yang diwarnai pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

Al / Penikmat Kopi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup