Intip Kemeriahan Pesta Panen Padi Tahunan di Walandawe Routa, Tradisi Leluhur yang Tetap Hidup

Intip Kemeriahan Pesta Panen Padi Tahunan di Walandawe Routa, Tradisi Leluhur yang Tetap Hidup. Foto: Istimewa.

KONAWE, SULTRAINFORMASI.ID – Kemeriahan pesta panen padi tahunan kembali terasa di Desa Walandawe, Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sabtu (7/2/2026). Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini terus dijaga masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus simbol kuatnya kebersamaan warga.

Pesta panen bukan sekadar perayaan hasil sawah, tetapi menjadi momentum penting mempererat silaturahmi antarwarga. Kegiatan tersebut turut melibatkan masyarakat dari desa sekitar seperti Wiwirano dan Kelurahan Routa. 

Sekitar 100 hektare lahan persawahan yang selama setahun terakhir menjadi sumber penghidupan utama warga menjadi latar rasa syukur bersama.

Seluruh rangkaian acara digelar secara sederhana tanpa kemewahan seremonial. Warga berkumpul untuk melaksanakan doa bersama sebagai ungkapan terima kasih atas rezeki yang diberikan Allah SWT.

Tradisi ini terlaksana berkat partisipasi sukarela masyarakat yang menyumbangkan tenaga, pikiran, hingga biaya secara gotong royong.

Kepala Desa Walandawe, Guslan, mengatakan pesta panen memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar merayakan hasil pertanian. Menurutnya, tradisi tersebut adalah simbol rasa syukur sekaligus cara menjaga nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

“Pesta panen ini adalah wujud syukur kami atas rezeki yang diberikan Allah SWT, sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga. Routa ini tanah leluhur kami, jadi kami sendiri yang harus merawat dan menjaganya lewat tradisi seperti ini,” kata Guslan, Minggu (8/2/2026.

Dalam rangkaian kegiatan, warga bersama-sama menangkap ikan di sungai sekitar lokasi pesta panen. Ikan hasil tangkapan kemudian dibakar dan disantap bersama. Masing-masing warga juga membawa makanan tradisional seperti burasa, lapa-lapa, ketan, serta aneka pangan lokal lainnya untuk dinikmati dalam suasana penuh kekeluargaan.

Momen makan bersama menjadi puncak kebersamaan dalam pesta panen tersebut. Tanpa memandang usia maupun latar belakang, sekitar 200 warga tampak antusias mengikuti kegiatan yang sarat nilai gotong royong itu.

Bagi masyarakat setempat, pesta panen padi bukan hanya tentang hasil pertanian, tetapi juga tentang menjaga jati diri dan warisan budaya. Tradisi ini menjadi pengingat agar generasi muda tetap menghormati leluhur, hidup selaras dengan alam, serta menjaga kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

“Routa ini adalah tanah kita bersama yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur. Sudah menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat untuk menjaga alam, tradisi, dan kebersamaan agar tetap lestari. Dengan kebersamaan itu pula kami berharap Routa selalu diberkahi, hasil pertanian melimpah, dan kehidupan warga semakin sejahtera,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup