Kasuami, Cita Rasa Tradisi yang Menyimpan Khasiat Bagi Tubuh
SULTRA, SULTRAINFORMASI.ID – Kasuami Makanan khas daerah Wakatobi, Buton dan Muna adalah salah satu makanan yang menjadi denyut kehidupan sehari-hari yang terbuat dari singkong bukan sekadar pengganti nasi, tapi juga warisan budaya dan sumber gizi yang penting bagi masyarakat kepulauan.
Kasuami hadir di setiap rumah, dihidangkan bersama ikan bakar, sambal colo-colo, atau parende hidangan ikan berkuah. Bentuknya yang kerucut, putih, dan padat, seolah menjadi simbol kesederhanaan dan kemandirian masyarakat pesisir. Namun di balik tampilannya yang sederhana, kasuami menyimpan beragam manfaat bagi kesehatan tubuh.
Kandungan karbohidrat dalam singkong menjadikan kasuami sumber energi utama bagi masyarakat yang hidup dari laut. Dalam 100 gram singkong terkandung sekitar 160 kalori, cukup untuk mendukung aktivitas nelayan yang seharian melaut.
Penelitian oleh Mohidin dkk. tahun 2021, dalam Frontiers in Nutrition menjelaskan, singkong merupakan sumber energi yang efisien dan mudah dicerna, serta memiliki potensi besar sebagai pangan pokok di daerah tropis.
Kasuami juga mengandung resistant starch atau pati tahan, sejenis serat yang bekerja seperti prebiotik. Zat ini tidak dicerna di usus halus, tetapi difermentasi di usus besar untuk menumbuhkan bakteri baik yang menyehatkan sistem pencernaan.
Menurut Nugent tahun 2005, dalam Nutrition Bulletin, resistant starch membantu memperlancar metabolisme, menjaga kadar gula darah tetap stabil, dan meningkatkan sensitivitas insulin. Karena itulah, kasuami bisa menjadi pilihan sehat bagi masyarakat yang ingin menjaga berat badan atau menghindari diabetes.
Walaupun melalui proses pengukusan, kasuami masih menyimpan vitamin C dalam kadar yang bermanfaat untuk tubuh. Vitamin ini membantu menjaga daya tahan tubuh, mempercepat penyembuhan luka, serta menjaga kesehatan kulit.
Riset oleh Boukhers dkk. tahun 2022, di jurnal Plants (MDPI) menemukan bahwa singkong memiliki kandungan vitamin C dan senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan alami. Senyawa ini membantu tubuh melawan radikal bebas dan memperlambat proses penuaan sel.
Kasuami adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal menjaga keseimbangan antara budaya, pangan, dan kesehatan. Dalam sepotong kasuami tersimpan nilai gotong royong, ketahanan pangan, dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun oleh perempuan-perempuan pesisir Wakatobi.
Di tengah gempuran makanan modern, kasuami tetap menjadi identitas kuliner masyarakat Wakatobi, Buton dan Muna sederhana tapi bergizi, tradisional tapi menyehatkan.









