Meski Berganti Nama Menjadi Sound Karnaval, MUI Jatim Tetap Soroti Dampak Bising Sound Horeg
NASIONAL, SULTRAINFORMASI.ID – Upaya komunitas pengusaha sound system menghapus cap negatif “sound horeg” dengan mengganti istilah menjadi Sound Karnaval Indonesia ternyata tak cukup untuk menghapus sorotan publik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menilai perubahan nama tidak mengubah substansi pelanggaran yang selama ini menjadi keluhan, yakni kebisingan yang melebihi ambang batas hingga mengganggu kesehatan masyarakat.
Sekretaris MUI Jawa Timur, KH Hasan Ubaidillah, menyampaikan bahwa fokus utama MUI bukan pada istilah, melainkan pada dampak nyata dari kebisingan yang ditimbulkan.
“Mau namanya diganti, ya aturannya kan soal desibel. Jadi nggak terbatas soal nama sound horeg. Kami tidak mengurusi soal nama, tapi soal desibel yang harus diatur sesuai WHO,” kata Ubaidillah dikutip sultrainformasi.id dari detikjatim (2/08/2025).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa MUI Jatim tidak mempersoalkan label yang digunakan oleh komunitas sound system, namun jika melanggar ambang batas suara di atas 85 desibel seperti standar WHO, maka aktivitas tersebut tetap akan dianggap mengganggu dan harus ditindak.
“Fatwa MUI Jatim tidak hanya persoalan merek, karena sebagaimana yang sudah kami sampaikan, merek itu diberi oleh masyarakat. Berganti istilah apapun, jadi sound horeg, sound festival, atau sound karnaval, selama tingkat kebisingannya di atas batas normal, tetap saja mengganggu ketertiban umum dan pendengaran manusia,” jelasnya.
Menurut Ubaidillah, potensi gangguan kesehatan akibat suara bising tidak bisa diabaikan. Gangguan yang bisa muncul mencakup kerusakan telinga permanen hingga gangguan fungsi kognitif.
“Intinya, kalau mengganggu kesehatan artinya ketika mendengar suara itu ada potensi gangguan telinga permanen, gangguan kognitif ya tetap tidak dibenarkan,” tegasnya.
Sebelumnya, para pengusaha persewaan sound system yang tergabung dalam Paguyuban Sound Malang Bersatumendeklarasikan perubahan nama dari sound horeg menjadi Sound Karnaval Indonesia dalam acara perayaan ulang tahun ke-6 Team Sotok di Desa Gedog Kulon, Kecamatan Turen, Malang. Deklarasi itu viral, terutama karena dihadiri tokoh-tokoh ternama di dunia sound seperti Mas Bre dari Brewog Audio Blitar dan Memed Potensio alias Thomas Alva EdiSound Horeg.
Meski telah mengganti nama, sorotan terhadap praktik penggunaan sound system dengan volume tinggi tampaknya belum akan surut, terutama jika tidak disertai perubahan dalam pengaturan tingkat kebisingan yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan publik.









