Polisi Larang Live TikTok Saat Demo, Netizen: Biar Ga Kerekam Siapa yang dihajar dan yang Menghajar
NASIONAL, SULTRAINFORMASI.ID – Menjelang aksi demonstrasi besar yang digelar Kamis, (28/08/2025), Polda Metro Jaya mengimbau massa aksi untuk tidak melakukan siaran langsung melalui TikTok maupun platform media sosial lainnya. Larangan ini langsung jadi bahan perbincangan hangat, bahkan menimbulkan beragam komentar satir dari netizen.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Ade Ary Syam Indradi, dalam video resminya meminta agar peserta aksi lebih fokus menyampaikan aspirasi ketimbang sibuk melakukan live streaming. Menurutnya, penyampaian pendapat harus tetap mengedepankan ketertiban umum khawatir memprovokasi.
Namun imbauan tersebut justru menambah panas diskusi publik. Pasalnya, live streaming selama aksi kerap dianggap “jalan ninja” massa untuk menyuarakan aspirasi rakyat hingga ke penjuru dunia.
Salah satunya unggahan akun @gurlvirgoo_, yang memperlihatkan aksi demo di depan gerbang DPR RI. Dalam videonya, terlihat jarak gerbang dan gedung DPR begitu jauh sehingga suara massa tidak sampai terdengar ke dalam.
Fenomena ini membuat live streaming jadi pilihan alternatif agar suara demonstran tak teredam tembok beton. Sejumlah komentar unik pun ikut meramaikan isu larangan live.
Akun SAYANG menulis: “SOUND HOREG TUNJUKAN PESONA MU KALI INI.”
Tak sedikit video demo di Jakarta sebelumnya yang viral di TikTok, bahkan ditonton hingga Korea Selatan, Thailand, Cina, dan Malaysia.
Sementara video Imbauan Pihak Kepolisian juga memancing berbagai respon dari netizen, akun KRISNA1976 berkomentar pedas: “Biar ga kerekam siapa yg dihajar dan yg menghajar…”
Ada pula akun im nastar yang menilai imbauan polisi tidak masuk akal: “Udh jangan didengerin, suara kita aja tidak didengar.”
Sedangkan akun asosygeboy dengan nada kesal menulis: “Hp hp gw, kuota kuota gw, siapa lo ngatur ngatur.”
Dan komentar yang tak kalah nyelekit datang dari Lihie shoters: “Hahaha ketar ketir, takut tembus ke luar negeri.”
Dengan derasnya perbincangan publik, larangan live streaming ini justru memperlihatkan betapa pentingnya media sosial dalam mengawal jalannya aksi demonstrasi. Tinggal menunggu, apakah para massa aksi benar-benar patuh pada imbauan polisi, atau justru suara rakyat akan kembali bergema lewat layar kecil smartphone menuju panggung dunia.









