Kain Adat Tolaki: Dari Kulit Kayu Jadi Warisan Bernilai, Simbol Hidup yang Terus Ditenun

Kain Adat Tolaki: Dari Kulit Kayu Jadi Warisan Bernilai, Simbol Hidup yang Terus Ditenun. Foto: Istimewa.

SULTRA, SULTRAINFORMASI.ID – Di balik kilap warna, pola, dan tekstur kain adat Tolaki, sesungguhnya tersimpan kisah panjang perjalanan budaya yang melewati waktu. Bagi masyarakat Tolaki yang tersebar di Kendari, Konawe, Kolaka, dan daerah sekitarnya kain adat bukan sekadar pelengkap busana, melainkan paduan simbol dan makna yang langsung “bersuara” dalam kehidupan.

Dalam Jurnal Ilmu Humaniora oleh B. Melamba yang berjudul “Sejarah dan Ragam Hias Pakaian Adat Tolaki di Sulawesi Tenggara”, di jelaskan bahwa pada masa lampau, masyarakat Tolaki tidak mengenal kain tekstil seperti sekarang. Mereka menghasilkan “kain” dari kulit kayu, dikenal dengan sebutan kinawo. Kulit kayu dipilih dari pohon tertentu, dikupas dan dipukul menggunakan batu (watu ike), kemudian dijemur dan diratakan hingga menyerupai lembaran kain. Teknik ini menggambarkan suatu hubungan magis antara manusia dan alam sekitar.

Seiring pergeseran zaman dan interaksi budaya, khususnya sejak abad ke-13 melalui pengaruh dari kerajaan Luwu, teknik menenun tekstil seperti benang kapas mulai diadopsi oleh masyarakat Tolaki. Proses menenun itu semakin berkembang pada era pemerintahan Lakidende, yang juga mendatangkan ahli tenun untuk memajukan kerajinan lokal.

Kini, kain adat Tolaki bukan lagi sekadar kinawo dari kulit kayu, tetapi umumnya berbahan tekstil (tenun) dan diperkaya motif khas yang sarat makna.

Dalam masyarakat Tolaki kuno, jenis pakaian bisa mencerminkan status sosial seseorang:

  • Para bangsawan atau raja memakai pakaian khusus seperti Mokole, kandiu, atau babu ngginasami.
  • Golongan pejabat mengenakan siwole mbatohu, sedangkan kelas menengah memakai to’ono motuo.
  • Untuk upacara perang dikenal Tamalaki.

Dalam ragam hias, motif seperti pinetaulu mbaku (pakis), pine to’ono (berbentuk manusia), dan motif hias daun maupun silangan kerap dijumpai.

Kain adat Tolaki bukanlah “hiasan kosong”. Motif‐motifnya membaur dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat. Berdasarkan penelitian Wahid tahun 2018 yang berjudul “Fungsi dan Makna Kain Adat Tolaki”, beberapa makna motif antara lain:

  • Wulele Sanggula – simbol kemakmuran, nama baik negeri, keadilan;
  • Pinelawa Opuho – lambang kesejahteraan rakyat dan kekuatan pemerintahan;
  • Pinesewi / Ani‐Ani – makna pelestarian budaya serta hubungan spiritual dengan leluhur;
  • Pinetawawako – perlindungan dan kestabilan dalam masyarakat;
  • Penetobo – keberanian, inspirasi bagi suami dalam rumah tangga.

    Selain motif, fungsi kain adat juga meliputi:
  1. Busana upacara dan tarian – dikenakan dalam pesta daur hidup, pesta adat, dan pertunjukan seni masyarakat Tolaki.
  2. Hadiah atau penghormatan bagi tamu – kain menjadi simbol penghargaan yang sarat makna kultural.
  3. Pengikat sosial dan simbol persatuan – di tengah keragaman budaya di Sulawesi Tenggara, kain adat Tolaki menjadi salah satu identitas pemersatu.

Kain adat Tolaki lebih dari sekadar bahan pelengkap busana ia adalah narasi budaya, filosofi hidup, dan identitas bersama. Dari kulit kayu ke tenunan indah, dari motif ke makna, kain adat Tolaki menuliskan kisah masyarakat yang menyatu dengan alam dan leluhur. Agar warisan indah ini tidak hanya tinggal cerita, kita perlu menjaganya melalui edukasi, inovasi, dan apresiasi bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup