Jemaah Umrah TRG Kendari Terlantar, Perjalanan Ibadah Berubah Jadi Derita

KENDARI, SULTRAINFORMASI.ID – Perjalanan yang diniatkan sebagai ibadah suci dan momen mendekatkan diri kepada Allah justru berubah menjadi kisah pilu bagi ratusan jemaah umrah asal Sulawesi Tenggara (Sultra).

‎Harapan yang mereka genggam sejak meninggalkan kampung halaman runtuh di tengah jalan, berganti rasa takut, lapar, dan kebingungan di negeri orang.

‎Salah seorang jemaah, US (31), warga Kolaka, menuturkan pengalaman getir yang dialami keluarganya. Dua anggota keluarga intinya berangkat umrah melalui travel TRG Kendari. Dari lingkungan tempat tinggalnya saja, hampir 50 orang turut serta dalam rombongan tersebut.

‎“Awalnya semua penuh semangat. Kami hanya ingin beribadah dengan tenang,” katanya, Jumat (13/02/2026).

‎Para jemaah diberangkatkan secara bertahap sepanjang Januari 2026. Namun sesampainya di Jakarta, masalah mulai muncul. Mereka dimintai tambahan biaya dengan alasan untuk melobi penerbitan visa. Dalam kondisi pasrah dan percaya, sebagian jemaah menyerahkan uang tambahan tersebut.

‎Beberapa jemaah yang visanya terbit lebih dulu langsung diberangkatkan, sementara yang lain harus menunggu tanpa kepastian. Hari-hari di Jakarta pun menjadi masa yang melelahkan. Para jemaah terlunta-lunta, berpindah-pindah tempat tinggal, sembari menunggu kabar yang tak kunjung jelas.

‎Wajah-wajah yang sebelumnya dipenuhi harapan berubah murung. Di antara mereka terdapat orang tua dan lansia yang hanya bisa bersabar menanti giliran berangkat.

‎Derita tak berhenti di situ. Jemaah yang diberangkatkan melalui Malaysia juga dikabarkan sempat terlantar karena biaya hotel tidak lagi terbayar. Beberapa di antaranya harus keluar masuk penginapan, bahkan diminta meninggalkan hotel karena masa sewa habis.

‎Dalam kondisi lelah dan kebingungan di negeri asing, mereka hanya bisa saling menguatkan agar tidak panik.

‎Setibanya di Mekkah, ujian kembali datang. Di kota suci yang seharusnya menjadi tempat meraih ketenangan batin, sebagian jemaah justru kesulitan memenuhi kebutuhan makan dan kehabisan biaya hidup. Situasi semakin memilukan saat waktu kepulangan tiba dan mereka mendapati tiket kembali ke Tanah Air belum tersedia.

‎Tangis pecah di bandara. Ada yang terduduk lemas, ada pula yang menghubungi keluarga di kampung halaman dengan suara bergetar meminta bantuan.

‎US mengaku harus mengirimkan uang hingga Rp20 juta demi menyelamatkan keluarganya dari keterlantaran. Dana tersebut digunakan untuk membeli tiket pulang dari Mekkah ke Jakarta, sekaligus memenuhi kebutuhan makan selama menunggu jadwal penerbangan.

‎“Keluarga kami berangkat untuk ibadah. Tidak pernah terbayang akan terlantar seperti ini,” ujarnya.

‎Kekecewaan mendalam kini menyelimuti para jemaah. Mereka merasa ditinggalkan tanpa tanggung jawab. Hingga kisah ini mencuat, menurut pengakuan sejumlah korban, pihak TRG Kendari belum memberikan penjelasan resmi.

‎Perjalanan yang seharusnya menjadi jejak ibadah terindah justru berubah menjadi ujian berat di Tanah Suci. Bagi para jemaah dan keluarga yang menanti di kampung halaman, pengalaman ini bukan sekadar kerugian materi, tetapi juga menyisakan trauma dan luka atas kepercayaan yang telah diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup